Khilafah ajaran Ahlussunnah Wal JamaahKhilafah Untuk Kebaikan IndonesiaMultaqo Ulama Aswaja - ManhajiNews

Ijtima Ramadhan Ulama Aswaja Gresik Kota Wali Mewanti-wanti Seluruh Eleman Bangsa Akan Kebangkitan PKI

Gresik Pantura (Shautululama) — Perihal rencana anak PKI menjadi Anggota TNI mendapatkan reaksi keras pada Ijtima’ Ramadhan Ulama Aswaja Gresik Pantura, Sabtu (23/4/2022). Kyai Muhib Hamid Rusydi, Ulama Aswaja Gresik menjelaskan dua pemberontakan PKI yang pernah terjadi di Indonesia.

“Pertama di Madiun. Kedua G30S PKI. Kalau kita ketahui bersama di Madiun hampir 2.000 korban. Padahal itu waktunya pendek hanya dua minggu. Korbanya kebanyakan kaum muslimin. Berlanjut tahun 1965 dengan memakan korban setengah hingga satu juta orang,”bebernya mengutip sejarah Indonesia.

Sejarah PKI di Indonesia berdarah-darah. Itu dicatat sebagai kehidupan yang kelam. Saat ini banyak yang mempertanyakan karena ada indikasi komunis bangkit kembali. Kemudian dikenal dengan neo-komunisme.

“Beberapa orang yang pro-PKI membantah dan mana PKI? Nggak ada ini. Nggak ada sekarang ini. Kan sudah dibubarkan? Mana buktinya?”jelasnya kembali.

Padahal banyak bukti yang memperjelaskan kepada publik tentang keberadaan PKI. Berbagai upaya yang dilakukan saat ini bisa dilihat dalam beberapa hal.

Pertama, adanya upaya mencabut TAP MPRS no. 25 Tahun 1966. TAP MPRS ini menjadi landsan utama pembubaran dan pelarangan PKI. Serta larangan menganut dan menyebarkan ajaran komunisme, marxisme, dan leninisme.

Kedua, tidak menjadikan TAP MPRS itu sebagai pertimbangan dalam membuat UU. Seperti adanya rancangan UU HIP. Isi UU HIP terdapat upaya merubah Pancasila menjadi Trisila kemudian ekasila. Ini mengingatkan peristiwa G30S PKI.

Ketiga, upaya dari pihak mereka untuk menerbitkan SKKPH (Surat Korban Pelanggaran HAM) oleh Komnas HAM. Mereka berharap bukan sebagai pelaku, tapi sebagai korban.

Keempat, adanya rekonsiliasi PKI sebagai warga negara yang memiliki kesamaan hak dalam hal yang lain. Seperti dalam pendidikan, hukum, menjadi PNS dan TNI.

Kelima, berupaya dibolehkan keturunan PKI untuk menjadi anggota TNI. Ini yang berbahaya karena TNI menjadi garda depan dalam pemberantasan PKI.

Keenam, upaya memperoleh kesamaan dalam hal memilih dan dipilih dalam pemilu. Sudah gol ada yang menjadi legislatif. Bahkan ada buku yang diterbitkan dengna judul “Aku Bangga Menjadi Anak PKI”. Mereka juga masuk ke eksekutif.

Upaya pengaruh komunisme kepada umat tak boleh dibiarkan. Jangan sampai ada penyusupan kader-kader PKI kepada partai, TNI, dan penguasa.

“Upaya penyusupan PKI menjadi bukti mereka bangkit dengan neo-komunimse. Ini sangat berbahaya bagi bangsa dan Indonesia. Khususnya mayoritas umat Islam,”pesan penting Kyai Muhib. [hn]

Ulama Aswaja - Manhaji

Media dakwah online ulama aswaja manhaji, menyeru kepada kebaikan

Related Articles

Back to top button