Khilafah ajaran Ahlussunnah Wal JamaahKhilafah Untuk Kebaikan IndonesiaMultaqo Ulama Aswaja - ManhajiNews

Bobroknya Tata Kelola Migas Tidak Akan Terjadi Jika Kehidupan Bernegara Dengan Syariah Islam

Probolinggo, Jatim (shautululama) – Mencermati kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja dengan adanya tata kelola migas yang bobrok, Direktur Rumah Inspirasi Perubahan Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Ustadz Indra Fakhrudin menilai bahwa itu tidak pernah terjadi jika negara dikeloloh sesusai dengan syari’ah Islam.

“Kondisi bobrok dalam tata kelola migas sebenarnya tidak akan terjadi jika dikelola secara syariah Islam,” ungkapnya dalam acara Ijtima’ Ramadhan Ulama Aswaja Tapal Kuda Probolinggo yang bertajuk : Tolak Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Islamophobia, Penghapusan Madrasah, dan Tolak Anak PKI Menjadi TNI, Selasa (5/4/2022), Leces Probolinggo.

Karena menurutnya, jika Ideologi Islam diterapkan akan merombak sistem ekonomi Kapitalisme dalam hal kepemilikan yang dimonopili segelintir orang menjadi dikelolah negara dan hasil sepenuhnya untuk kemaslahatan warga negara.

“Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdulah bin Said, dari Abdullah bin Khirasy bin Khawsyab asy-Syaibani, dari al-‘Awam bin Khawsyab, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اَلْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ وَثَمنَهُ حَرَامٌ

Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api; dan harganya adalah haram.

An-Naar (api) disini oleh para fuqoha dimaknai sebagai sumber daya migas,” tuturnya.

Dalam konsep syari’ah Islam, katanya, negara mengelolah sumberdaya alam salah satunya adalah BBM menjadi kepemilikan umum sehingga rakyat akan mendapatkan harga yang murah.

“Artinya negara memposisikan benar-benar sebagai pelayan masyarakat bukan dengan cara pandang sebagai pebisnis dalam melayani rakyat sebagaimana dalam sistem kapitalisme” Imbuhnya.

Beliau menjelaskan, kelangkaan minyak goreng di pasaran yang dirasakan rakyat sampai menelan korban dalam antrian untuk mendapakannnya, padahal Indonesia sebagai penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia mencapai 46,88 juta ton tahun 2021 dengan total luas mecapai 16,38 juta hektar tahun 2019.

“Indonesia sedang tidak baik-baik saja, bahkan sangat terpuruk. Hal itu tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Bagaimana tidak? Beberapa pekan rakyat dibuat resah akibat kelangkaan minyak goreng dipasaran,” jelasnya.

Beliau juga mengungkapkan, ada dua penyebab terjadinya, pertama, kuat dugaan telah terjadi kartel, alias penguasaan produksi dan pasar oleh sekelompok produsen. Mulai hulu hingga hilir migor dikuasai segelintir orang, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akhir Maret 2022 menemukan pelanggaran penetapan harga, kartel, dan penguasaan pasar dalam industri minyak goreng.

Kedua, salah kelola oleh Negara, katanya, karena Pemerintah mengizinkan para pengusaha tetap mengekspor minyak goreng keluar negeri di tengah kelangkaan barang. Sementara itu PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92), pemerintah mengumbar alasan Pertamina mengalami devisit anggaran dan naiknya harga minyak mentah dunia.

“Kondisi ini sebenarnya juga bukan hal baru, dimana publik sudah mengetahui betapa banyak BUMN yang mengalami kerugian, dipastikan memunculkan efek domino terhadap kenaikan biaya transportasi sehingga berimbas pada naiknya harga-harga bahan pokok lainnya,” ungkapnya.

“Dan kita yakin kedepan negara khilafah dengan dominasi politik ekonominya mampu mengelola BBM secara syariah ini tanpa tersandera oleh berbagai konsensus ekonomi negara-negara kufur. Apalagi Allah SWT telah menganugerahi negeri-negeri Islam dengan kekayaan sumberdaya minyaknya yang meluas,” pungkasnya.

Ulama Aswaja - Manhaji

Media dakwah online ulama aswaja manhaji, menyeru kepada kebaikan

Related Articles

Back to top button